Gerakan ini bukanlah upaya mengekspor budaya Haiti ke dunia.
Ini bukan gerakan Haiti, gerakan Amerika, atau gerakan yang tergabung dalam satu negara, etnis, agama, filsafat politik, atau budaya.
Ini dimulai dengan sesuatu yang lebih sederhana dan lebih pribadi:
Terima kasih.
Saya dilahirkan dengan asal usul Haiti, dan warisan itu akan selalu menjadi bagian dari cerita saya. Melalui musik saya, khususnya Kompa, budaya musik Haiti secara alami ikut bepergian bersama saya.
Namun Amerika juga merupakan bagian penting dari cerita saya.
Amerika adalah tempat saya dibesarkan, tempat saya dididik, tempat saya membangun karier, dan tempat saya menerima peluang yang pada akhirnya memungkinkan saya melakukan perjalanan melampaui batas Amerika dan menjelajahi dunia yang lebih luas.
Kontribusi itu harus diakui dengan rasa syukur.
Dan ketika saya melakukan perjalanan, negara demi negara dan kota demi kota menyambut saya.
Terkadang sambutan itu sangat berarti. Terkadang itu hanya seseorang yang menyapa.
Senyum. Jabat tangan. Makan. Pertemuan bisnis. Sebuah percakapan. Kamar hotel setelah perjalanan panjang. Orang asing menawarkan petunjuk arah. Sebuah keluarga membuka pintu. Sebuah kota yang memungkinkan saya mengalami cara hidup yang lain.
Setiap pertemuan menjadi bagian dari perjalanan saya.
Oleh karena itu, inisiatif ini dimulai ketika seorang seniman menjalani kembali perjalanan hidupnya untuk mengucapkan terima kasih kepada orang-orang dan tempat-tempat yang menyambutnya selama ini.
Bukan untuk memberi tahu negara-negara tersebut apa yang seharusnya menjadi budaya mereka.
Bukan untuk menggantikan budaya mereka dengan budaya saya.
Tidak mengekspor identitas suatu negara ke negara lain.
Tapi untuk mengatakan:
Terima kasih telah menerimaku.
Terima kasih telah mengizinkan saya menjelajahi negara Anda.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan hidupku.
Dari Rasa Syukur Pribadi hingga Rasa Syukur Global
Bab pertama harus dimulai dengan tempat-tempat yang memiliki hubungan otentik dengan kehidupan saya.
Ini adalah tempat-tempat yang saya kunjungi, tinggali, kerjakan, lalui, atau ingat karena orang-orang yang saya temui di sana.
Keaslian itu penting.
Kita tidak boleh berpura-pura bahwa saya memiliki hubungan pribadi dengan setiap negara di dunia padahal sebenarnya tidak.
Sebaliknya, kita mulai dengan kebenaran.
Inilah tempat-tempat yang menyentuh hidup saya.
Dan saya kembali, melalui musik, cerita, persahabatan, apresiasi budaya, dan rasa syukur, untuk mengucapkan terima kasih.
Tapi itu baru permulaan.
Begitu tradisi ini terbentuk, lingkarannya bisa berkembang. Negara lain dapat berpartisipasi. Kota-kota lain dapat berpartisipasi. Artis lain dapat berpartisipasi. Keluarga lain dapat berpartisipasi. Generasi lain dapat berpartisipasi.
Pada akhirnya, perjalanan pribadi yang asli bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih besar:
Pekan Syukur Internasional
Satu minggu setiap tahun ketika umat manusia didorong untuk mengingat orang-orang dan tempat-tempat yang membantu kita sepanjang perjalanan dan hanya mengatakan: Terima kasih.
Melalui musik. Melalui makanan. Melalui seni. Melalui persahabatan. Melalui bercerita. Melalui pertukaran budaya. Melalui pengabdian masyarakat. Melalui jabat tangan. Melalui panggilan telepon. Melalui kunjungan. Dengan mengingat seseorang yang membantu kami bertahun-tahun yang lalu. Melalui satu negara mengakui negara lain. Melalui satu generasi berterima kasih kepada generasi yang datang sebelumnya.
Ekspresinya bisa berubah. Prinsipnya harus tetap: Syukur.
Tradisi 1.000 Tahun
Ambisinya bukan untuk menciptakan sebuah peristiwa yang hilang ketika pendirinya tiada.
Ambisinya adalah untuk membangun tradisi.
Generasi saya memulainya. Generasi berikutnya membawanya. Anak-anak mereka membawanya. Dan generasi setelah mereka terus meneruskannya.
Amanatnya sederhana:
Untuk 1.000 tahun ke depan, luangkan waktu satu minggu setiap tahun untuk mengucapkan terima kasih kepada dunia.
Generasi mendatang harus bebas menyesuaikan musik, teknologi, bahasa, kota, perayaan, dan metode partisipasi sesuai zaman mereka. Mereka tidak boleh dituntut untuk meniru sang pendiri. Mereka harus diminta untuk menjaga prinsip tersebut.
Ingat dari mana Anda berasal. Ingat siapa yang membantu Anda. Ingatlah tempat-tempat yang menyambut Anda. Dan ucapkan terima kasih.
Teknologi akan berubah. Musik akan berubah. Negara dapat berubah. Kota-kota akan berubah. Generasi akan berubah. Namun rasa syukur tidak menjadi usang.
Peran Kebudayaan
Setiap negara peserta harus didorong untuk menampilkan budayanya sendiri.
Ketika kita mengunjungi Senegal, kita harus mendengarkan Senegal. Ketika kita mengunjungi Tiongkok, kita harus mendengarkan Tiongkok. Ketika kita mengunjungi Meksiko, kita harus merasakan Meksiko. Ketika kita mengunjungi Belgia, kita harus menghargai Belgia. Ketika kita berkunjung ke Belanda, hendaknya kita mengapresiasi Belanda. Ketika kita mengunjungi Amerika, kita harus mengakui kontribusi Amerika dalam perjalanan ini.
Dan ketika Haiti dirayakan, Haiti juga harus dirayakan secara otentik.
Kompa tetap menjadi bagian dari identitas artistik saya, namun harus berfungsi sebagai satu suara musik yang berjalan dalam persahabatan, bukan sebagai deklarasi bahwa gerakan tersebut adalah milik Haiti.
Prinsipnya adalah timbal balik:
Aku membawakan laguku. Anda membagikan lagu Anda. Kami mendengarkan satu sama lain.
Itulah pertukaran budaya.
Tempat Amerika dalam Cerita
Amerika layak mendapatkan pengakuan eksplisit.
Perjalanan internasional tidak akan terwujud tanpa landasan yang memungkinkan perjalanan tersebut terwujud.
Amerika adalah tempat saya dibesarkan dan dididik. Di sanalah saya membangun karier. Hal ini memberikan peluang yang memungkinkan terjadinya perjalanan internasional dan hubungan internasional.
Oleh karena itu, rasa terima kasih kepada Amerika bukanlah sebuah catatan kaki. Itu adalah bagian dari kisah pendiriannya.
Demikian pula, rasa syukur kepada Haiti tetap menjadi bagian dari cerita karena warisan, keluarga, kenangan, dan Kompa membantu membentuk seniman yang akhirnya melakukan perjalanan keliling dunia.
Kebenaran-kebenaran ini tidak bersaing satu sama lain. Mereka berasal dari kehidupan yang sama.
Tidak Ada Negara yang Memiliki Rasa Syukur
Pada akhirnya, Pekan Syukur Internasional harus menjadi milik umat manusia.
It should never become: “Haiti thanking the world.”
It should never become: “America thanking the world.”
It should never become: “TimTim.Live teaching the world gratitude.”
Kisah pendiriannya sederhana saja:
Seseorang memutuskan untuk kembali dan berterima kasih kepada dunia yang telah membantu membentuk hidupnya.
Kemudian dia mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Begitulah sesuatu yang bersifat pribadi bisa menjadi universal.
Janji Sang Pendiri
Saya pribadi tidak bisa berterima kasih kepada setiap manusia yang telah membantu saya. Saya tidak bisa membalas setiap jabat tangan. Saya tidak dapat mengingat setiap wajah. Saya tidak bisa meninjau kembali setiap percakapan.
Tapi saya ingat apa arti pertemuan itu.
Dan saya dapat menciptakan sesuatu yang mengatakan, atas nama saya: Saya tidak lupa.
Kepada negara-negara yang menerima saya: Terima kasih.
Ke kota-kota yang menyambut saya: Terima kasih.
Ke Amerika, yang memberi saya kesempatan untuk membangun kehidupan, membangun karier, dan bepergian: Terima kasih.
Kepada Haiti, yang warisan dan musiknya tetap menjadi suara artistik saya: Terima kasih.
Kepada orang asing yang tersenyum: Terima kasih.
Kepada orang-orang yang namanya sudah tidak saya ingat lagi: Terima kasih.
Kepada mereka yang sekadar menyapa: Terima kasih.
Dan kepada generasi yang akan mewarisi tradisi ini:
Silakan lanjutkan.
Bukan untukku. Bukan untuk satu negara. Bukan untuk satu budaya. Tapi untuk kemanusiaan.
Mandat 1.000 Tahun
Ingat, setahun sekali, selama satu minggu.
Ingat orang-orangnya. Ingat tempatnya. Ingat peluangnya. Ingatlah kebaikannya. Ingat perjalanannya.
Lalu katakan: Terima kasih.
Dan ketika generasi Anda sudah tamat, serahkan tanggung jawab itu kepada generasi berikutnya.
Selama 1.000 tahun.
Dan mungkin, ketika 1.000 tahun itu telah berlalu, generasi berikutnya akan memutuskan bahwa rasa syukur layak mendapatkan seribu tahun lagi.


