Pada tahun 1986, saya berusia 18 tahun dengan kantong penuh mimpi dan hati penuh musik.
Suatu hari di Lynn, Massachusetts, saya masuk ke toko musik dan melihatnya—sebuah gitar putih tergantung di dinding. Saya masih bisa melihat momen itu seolah baru terjadi kemarin. Jalan. Toko. Kegembiraan di dadaku saat pertama kali aku melingkarkan tanganku di sekelilingnya.
That guitar wasn't just wood and strings.
Itu adalah kebebasan.
Itu adalah harapan.
Itu adalah soundtrack masa depan yang belum saya jalani.
Aku membayangkan panggung-panggung yang belum pernah kulihat, lagu-lagu yang belum kutulis, dan orang-orang yang belum pernah kutemui bernyanyi bersama diiringi musik yang hanya ada dalam mimpiku.
Tapi hidup punya cara untuk menguji impian kita.
Tidak lama setelah itu, saya harus membuat salah satu keputusan tersulit di masa muda saya. Saya berjalan kembali ke toko yang sama dan menjual gitar.
Saya masih ingat melihatnya lepas dari tangan saya.
Empat puluh tahun kemudian, saya dapat mengatakan yang sebenarnya:
Saya tidak pernah bisa melupakannya.
Karena saat kamu melepaskan sebuah mimpi, sebagian hatimu tetap terhubung dengannya selamanya.
A few years later, during my final semester at Salem State University in Salem, Massachusetts, I enrolled in a piano class. My goal wasn't just to earn a grade.
Tujuan saya adalah memulai sebuah band.
Saya memperoleh nilai B+, namun yang sebenarnya saya peroleh adalah konfirmasi bahwa musik memanggil saya.
I bought an electric piano and spent hours practicing songs from Tropicana d'Haïti. Those melodies carried me somewhere beyond classrooms, beyond responsibilities, beyond the limitations of everyday life. When I played, I felt alive. I felt connected to my culture, my roots, and my future.
Namun kehidupan terus bergerak.
Peluang bisnis pun muncul. Tanggung jawab bertambah. Karier dibangun.
Dan sedikit demi sedikit, musik menjadi latar belakang sementara saya fokus membangun bisnis dan menciptakan peluang bagi orang lain.
But here's something I've learned:
Gairah sejati tidak pernah mati.
Itu menunggu.
Dengan sabar.
Diam-diam.
Dengan setia.
Menunggu hari dimana kamu akhirnya kembali ke rumah.
Dan kemudian sesuatu yang indah terjadi.
Hampir 40 tahun setelah mengucapkan selamat tinggal pada gitar putih itu, saya menemukannya lagi.
Atau mungkin dia menemukanku.
The moment I held that white guitar in my hands, time disappeared. I wasn't just the man I am today. I was also that 18-year-old kid standing in that music store in Lynn, believing anything was possible.
Mimpi itu telah menjadi lingkaran penuh.
Hari ini, gitar putih yang sama itu kembali ke tempatnya semula.
Di tanganku.
Di hatiku.
Dan segera, di panggung di seluruh dunia.
As I prepare for my "Konpa to the World" global musical tour, I am not simply performing songs.
Saya berbagi perjalanan seumur hidup.
Sebuah mimpi yang tertunda namun tidak pernah ditinggalkan.
Gairah yang menolak untuk mati.
Sebuah kisah tentang keyakinan bahwa tidak ada kata terlambat untuk menjawab panggilan yang selama ini ada dalam diri Anda.
When you listen to my music, I don't want you to simply hear it.
Saya ingin Anda merasakannya.
Saya ingin Anda mendengar mimpi seorang anak berusia 18 tahun yang lahir di Les Cayes, Haiti dan sekarang tinggal di Washington DC AS.
Saya ingin Anda mendengar pengorbanan, kemenangan, kemunduran, dan harapan.
Saya ingin Anda mendengar suara seseorang yang menemukan jalan kembali ke dirinya sendiri setelah empat dekade.
Dan jika musik saya menggerakkan Anda, maka cerita kita menjadi terhubung.
Karena jauh di lubuk hati, kita semua memiliki gitar berwarna putih.
Kita semua memiliki mimpi yang pernah kita cintai.
Kita semua memiliki sesuatu yang membuat kita menjauh dari kehidupan.
Perjalananku adalah tentang menemukan jalan kembali.
Maybe, together, we'll help you find our way back to our true passion and destiny.